Apakah kita sudah benar benar mengajar dengan teknologi?

Secara sederhana berpikir mengajar dengan teknologi adalah sekedar mengajar dengan mengganti sesuatu yang konvensional menjadi teknologi. Sebagai contoh mengubah dari papan tulis menjadi papan tulis digital, mengubah hard copy menjadi soft copy, hingga mengubah transparansi menjadi PowerPoint. Kenyataannya tidak demikian, banyak sekali kejadian yang menunjukkan bahwa teknologi tidak lebih menjadi 'bencana' proses belajar yang baik. Sebuah contoh sederhana 30 menit waktu terbuang akibat kesulitan menampilkan PowerPoint ke Proyektor, atau bahkan hilangnya data akibat komputer crash di tengah menyiapkan ujian susulan. Semua hal tersebut menunjukkan bahwa sebelum mengarah dan berusaha mengajar dengan teknologi, seorang pengajar harus menyiapkan bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung penggunaan teknologi. Artikel ini akan membahas tiga pendekatan sederhana bagaimana mengajar dengan teknologi.

Langkah Pertama. Memahami Literasi Digital

Banyak penggunaan teknologi terkendala dengan yang kita sebut dengan 'technology gap' sederhananya pengajar belum memiliki kompetensi yang cakap bagaimana menggunakan teknologi. Mulai dari hal yang sederhana misalnya, tidak mengetahui 'shortcut' cepat untuk menampilkan presentasi di layar, tidak paham memindai WIFI yang hidden, hingga langkah-langkah troubleshooting software yang bermasalah. Literasi digital atau yang di Indonesia dikenal dengan pengenalan teknologi informasi selayaknya tidak memberikan kontribusi teori tetapi juga kontribusi praktis bagaimana menangani kasus-kasus di atas. Caranya? cukup mempelajari dasar-dasar pengetahuan komputasi yang saat ini sudah menjadi standar. Sayangnya banyak pengajar melupakan standar pembelajaran dan mempelajari yang diperlukan saja. Padahal akan sangat penting memiliki kompetensi ini secara penuh mengingat tidak ada yang tahu isu teknik yang akan dihadapi dalam keseharian

Langkah Kedua. Menyusun Materi Ajar Dengan Desain Pembelajaran Berbasis Digital

Setelah kesiapan personal, kesiapan selanjutnya adalah kesiapan materi yang hendak disampaikan. Pendidik selayaknya mengetahui kompetensi yang diharapkan dari anak didiknya di era Abad 21. Salah satu standar yang banyak di adopsi dikenal dengan 21 Century Learning Design (21 CLD). 21 CLD ibarat spesifikasi yang siap diadopsi untuk memenuhi kompetensi teknis yang diharapkan bagi siswa bagi pengajar maupun bagi yang diajar. 21 CLD mendiskusikan bagaimana membuat materi yang tidak hanya menjelaskan dan menjadikan sebuah kelas berparadigma diktat, tetapi mendorong bagaimana guru membuat pembelajaran yang memenuhi seluruh aspek pembelajaran yang sudah diajarkan oleh berbagai teori seperti Bloom, dan sebagainya. Untuk memudahkan penerapan terdapat sebuah aplikasi yang khusus yang berperan sebagai borang persiapan materi pembelajaran abad 21

Langkah Ketiga. Mengajar Dengan Teknologi

Apakah dengan demikian mengajar teknologi diartikan bahwa setiap pertemuan diawali PowerPoint dan diakhiri dengan tugas di E-learning? jika itu adalah pemikiran mengajar dengan teknologi maka sangat disarankan untuk memahami konsep dasar TWT (Teaching with Technology). TWT adalah sekumpulan best practices yang mengombinasikan standar UNESCO ICT CFT (ICT Competency Framework for Teacher) dengan 21 CLD dan juga teori pembelajaran PBL dan yang lain. Apabila hal yang dikemukakan tadi berasa asing, jangan khawatir terdapat pembelajaran yang menuntun pengajar untuk mengusai berbagai hal sebagai berikut.

  • Mengintegrasikan aspek pedagogis dan aspek teknologi
  • Menggunakan perangkat yang tepat untuk mengajar
  • Mengaplikasikan dan mengelola teknologi

Untuk selengkapnya bisa dilihat dari tautan Teaching with Technology Learning Path

Jadi sudah siapkah mengajar dengan teknologi?

 

@ridife


Bagikan ini